Hari baru, Lingkungan Baru Bushypark NS…Here We Go!

*Memori Setahun Yang Lalu, Menyisir Ingatan di Balik Rintik Hujan

 

Tahun lalu, pada awal September 2015 kami datang ke kota Permai ini.

Sebelumnya, anak-anak sudah jauh-jauh hari kami daftarkan di sekolahnya masing-masing. Di sini termasuk mudah perkara administrasi pendaftaran dsb, hingga meski kami masih berada di Indonesia, yang terjarak bentang samudera, namun Mr. Carney, Principal Sekolah St. James Busyipark National School, dapat dengan welcome menerima pendaftaran anak-anak. Saat itu, tiga anak kami daftarkan, Najma (Kelas 5), Thariq (Kelas 3) dan si Bungsu yang saat itu berusia 4 tahun akan masuk sekolah untuk pertama kalinya, yakni di Junior Infants.

Adapun Izzi, mbarep kami, setelah menamatkan SD di SD IT Al-Hikmah Depok, dan sempat beberapa kecap menjajal SMP Negeri 30 di Jakarta Utara, yaitu sejak juli hingga akhir Agustus. Ia sudah mendapatkan konfirmasi penerimaan sekolah di secondary school  di sini. St. Joseph Patrician’s College, atau yang ngetop dengan panggilan “The Bish.” Sekolah ini khusus untuk anak laki-laki. Di Irlandia, untuk jenjang secondary school, mayoritas sekolah dipisah antara anak-anak laki dan  anak perempuan. Boy’s school dan girl’s school. Konfirmasi diterimanya Izzi memang agak lambat dibanding adik-adinya yang SD. Izzi sempat beberapa bulan masuk waiting list di sekolah The Bish. Email yang mengabarkan diterimanya Izzi di sekolah ini hanya sekira 2-3 bulan menjelang kami berangkat. Tentu saja kami sambut dengan rasa syukur. Akhirnya empat anak ini sudah mendapatkan sekolahnya. Plong.

Insiden Kecil, Mengubah Rencana Sekonyong-konyong

Namun terjadi insiden kecil di bandara Dublin pada saat kami datang pada tanggal 4 September pada pagi hari. Ini sedikit banyak memaksa kami untuk mengubah semua rencana yang kami rancang jauh hari. Terutama untuk Izzi. Sempat down juga saya menghadapai Bapak Imigrasi yang kebetulan dapat yang ribed. Meski segala pritilan administrasi sudah dilengkapi. Sampai pada saat ia menanyakan akan sekolah di mana anak-anak yang saya jawab apa adanya dengan menunjukkan Letter of Acceptance pada email, ia membuat shock kami dengan mengatakan bahwa anak-anak ini tidak boleh bersekolah di sekolah negeri. Apa pasal? Karena saya adalah PhD student, saya dan suami tidak bekerja di sini yang oleh karenanya tidak membayar pajak. Ia bilang bahwa tidak fair kalau anak-anak ini bisa mengakses pendidikan negeri.

Saya lemes ketika itu. Meski antrean pemeriksaan imigrasi mengular panjang, tidak menyurutkan si Bapak untuk ribed-ribed mempermasalahkan kami. Ya Rabb, saya hanya berdoa dalam hati. Segala kemudahan hanyalah dariNya. Tanpa diduga, ia meminta melihat email acceptance pada HP saya. Saat itu yang muncul adalah Surat Penerimaan Izzi di The Bish. Ia segera melakukan kontak telepon dengan kepala sekolah sebagaimana tertera dalam badan email. Intinya, ia menjelaskan bahwa Izzi tidak boleh bersekolah di sekolah tersebut sebagai sekolah negeri. Ia harus bersekolah di sekolah swasta (Padahal di Galway tidak ada sekolah swasta! Hiks). Masih Alhamdulillah, ia hanya menghubungi kepala sekolah yang secondary school, dan tidak ke sekolah anak-anak yang lain (SD). Qadarullah.

Karena kami tiba di Galway pada hari Jumat, maka kami harus menunggu Senin untuk lapor ke sekolah pada hari Senin-nya (tanggal 7 Sept 2015). Pagi itu saya dan Izzi datang ke sekolahtersebut. Dengan deg-deg-an…seraya berharap agar  insiden Jumat kemarin tidak ‘diambil hati’ oleh sang kepsek. Namun, apa yang terjadi diluar harapan. Dengan muka menyesal karena ia tidak bisa membantu, ia tidak bisa menerima Izzi masuk di sekolah tersebut, meski menurutnya ini sangat tidak lazim. Bahkan menurut sang kepsek, ada banyak anak-anak PhD students juga di sekolah ini. Sepertinya ia khawatir akan merembet ke anak-anak yang lain jika ia tidak mengindahan peringatan dari petugas imigrasi di Dublin tersebut. Ia hanya dapat menyarankan agar Izzi menunggu tahun depan, sambil mempersiapkan bahasa Inggrisnya agar lebih baik. Menurut dia tahun depan tidak mengapa jika Izzi akan masuk sekolah tersebut, tetapi tidak tahun 2015, mengingat baru saja ia mendapatkan “peringatan” tersebut. Dan uang kontribusi tahunan sekolah sejumalh 250Euro yang sudah kami transfer-pun dikembalikannya. Sedih. (Tawaran untuk masuk tahun depannya memang kemudian dibuktikannya dengan berkirim email, dan juga by post, offering kepada kami untuk Izzi masuk pada academic year 2016/2017 pada akhir tahun lalu. Tapi saat itu kami sudah mendaftar ke sekolah lain, St. Mary’s College Boys School. Hehe bukan patah hati sih ya, maaf, cuma rada baper *ting ).

Singkat cerita, lobi yang gagal ke kepsek The Bish tersebut membuat Izzi sedikit patah arang. Ia malu karena nanti tiba saatnya ia kembali ke Indonesia, teman-temannya akan menjadi kakak-kelasnya, begitu rajuknya. Padahal di Indonesia dia sudah lulus UN yang susah itu. Bahkan sudah sempat bersekolah SMP.

Repeating 6th Year, Why (Not)?

Keesokan harinya, kami sekeluarga ke sekolah SD. Itulah perjumpaan kopdar kami dengan Mr. Carney, kepala sekolah yang sudah setengah sepuh. Ia adalah sosok yang ramah dan baik hati. Bicaranya pelan (berbeda dengan typical Irish pada umumnya yang cepat ritmenya) dan amat santun. Ia menerima kami dengan tangan terbuka dan ramah tamah. Tiga anak sudah mendapat kelasnya. Di antara jeda, kami pelan-pelan melobi, barangkali Izzi bisa diterima di sekolah tersebut kelas 6. Kami mengatakan bahwa Izzi belum mendapatkan sekolah SMP, tanpa menyebut kejadian di imigrasi tentu saja. Izzi sebenarnya sedikit protes jika harus kelas 6 lagi. Tapi pikir kami daripada ia menganggur di rumah jika tidak dapat sekolah SMP yang lainnya lagi (kami bertekad akan mencari).

Di sini, TK Kecil (Junior Infants) dan TK besar (Senior Infants) masuk dalam ‘paket’ sekolah dasar atau primary school. Atau, di sini disbeutnya National School (NS). Untuk diketahui di Galway tidak ada sekolah swasta (private school). Untuk sekolah negeri, secara umum pendidikan gratis. Adapun biaya yang ditarik adalah untuk kontribusi tahunan (annual contribution) sejumlah 75Euro per anak per tahun, dan rental buku (book rent) sejumlah 50Euro per tahun (yang akan dikembalikan 10 Euro pada akhir periode peminjaman, jika tidak ada kerusakan pada buku. Secara umum cukup ringan, disbanding dengan kualitas pendidikan yang kita dapatkan.

Pak kepsek kemudian menanyakan Izzi usia berapa. Bersyukur juga karena Izzi memang masuk sekolah di usia cukup muda. Karena ia lahir di bulan November. Maka pada saat itu bahkan ia belum gelap berusia 12. Setelah meneliti keberadaan murid-murid di kelas 6, dan masih dimungkinkan untuk menerima Izzi. Alhamdulillah Ya Rabb. Akhirnya empat anak itu berada pada 1 sekolah.

Hari-hari berikutnya, Izzi malah tidak mau ibunya hunting sekolah SMP lagi. Ia bilang, tak apa di SD, teman-temannya baik dan ia mulai kerasan. Jadilah setiap hari empat anak ini melaju bersekolah. Berjalan sekira 1,2km dari rumah. Namun karena untuk anak-anak junior dan senior infants jam sekolahnya sampai dengan 1.30, sementara kakak-kakaknya sampai dengan 2.30 (Sekolah dibuka mulai jam 8.45, pelajaran dimulai pukul 9), maka setiap hari saya atau abinya anak-anaklah yang harus jemput Ilyas. Sementara setelah 1 pekan saya antar berangkat sekolah, hari-hari setelahnya mereka berempat berangkat sekolah bersama-sama. Mereka riang bisa bersama. Meski sesekali diiringi ribut-ribut jelang berangkat, biasalah rebutan ini-itu.

Sekolah SD ini salah satu yang direkomendasikan supervisor saya (Rekomendasi ang lainnya adalah Galway Educate Together NS). Dan pada saat kami ngobrol dengan para orang tua murid, memang mereka banyak yang bilang bahwa sekolah ini adalah sekolah yang bagus. Bahkan seorang kawan yang kebetulan juga seorang muslim dari Libya (orang tua murid) bilang bahwa 4 anaknya di sekolah ini, saat ini tinggal anaknya yang nomor 4 yang di sini, sekelas dengan Izzi. Ia bilang bahwa Galway adalah kota yang baik sekali untuk tumbuh kembang anak. Dibandingkan, menurutnya, dengan UK dimana dulu ia pernah tinggal. Sekolah ini highly recommended menurutnya. Dan dalam beberapa hari saya merasakan anak-anak yang mulai beradaptasi dengan lingkungan barunya ini. Relatif smooth adaptasinya. Tidak ada bullying, dan hal-hal yang tak mengenakkan lainnya. Dalam waktu singkat anak-anak sudah dikenal di sekolahnya. Tak jarang anak-anak disapa ketika bertemu di depan sekolah atau di mana saja, “Hi, Thariq…” seorang gadis Egypt nan unyuk tampak melambaikan tangannya.

Bahkan, pada saat Thariq pertama kali masuk ke kelasnya (Kelas 3), Semua anak bertepuk tangan menyambut Thariq. Ternyata, gurunya sudah sounding kepada anak-anak yang lain sejak awal (mereka sudah masuk sejak tanggal 1 September, Thariq baru masuk pada 9 September) bahwa akan ada Thariq, murid baru dari Indonesia.

Di kelas Najma juga serupa, teman-temannya baik dan penolong. Hanya Najmanya saja memang yang pemalu. Di sekolah ini, Najma adalah satu-satunya murid berhijab. Alhamdulillah tidak ada suatu kendala. Suatu hari di awal-awal dulu, pelajaran geografinya membahas tentang…Indonesia! Sontak, anak-anak kelas 5 bergembira. Apalagi mengingat ada orang ‘asli’ dari Negara yang sedang dibahas di pelajaran.

Di kelas Izzi, teman-temannya berlomba untuk bertanya beberapa kata dalam bahasa Indonesia. Seperti selamat pagi, selamat siang, terima kasih, dan kata-kata sapaan lainnya. Dengan logat yang lucu mereka menyapa Izzi dengan bahasa Indonesia..hehe.

Dalam kurun waktu satu tahun akademik di sekolah, anak-anak merasa nyaman dengan lingkungan barunya. Untuk soal adaptasi bahasa, anak-anak (kecuali yang paling kecil) di-support oleh semacam les privat english setiap hari sekitar 15 menit di sekolah. Ada guru khusus yang mengajar tiga anak ini. Ada PR juga untuk menggenjot anak-anak lebih cepat berbahasa baik lisan maupun tulisan. Dan, yang paling penting, semua itu diberikan secara cuma-cuma alias gratis tis, saudara-saudara.

Di setiap kelas disediakan toilet untuk anak-anak. Saya tidak pernah masuk ke toilet di kelas, tapi toilet di lorong sekolah saya pernah. Dan bersih-sih. Saya Tanya anak-anak bagaimana toilet di kelas mereka, mereka kompak bilang: “bersih, Bunda.”

Ada masanya juga beberapa kali dalam sebulan anak-anak SD yang sudah besar (semisal kelas 4, 5, atau kelas 6) masuk ke kelas junior infants atau senior infants, baik untuk bermain maupun untuk membacakan cerita. Ini program nasional sepertinya. Jadi anak-anak yang lebih besar “big brother” atau “big sister” mengenal dan dapat lebih dekat dan sayang kepada adik-adik kecil di senior infants dan junior infants. Di kali yang lain, dibalik. Anak-anak kecil itu yang ‘anjangsana’ ke kelas anak-anak yang besar.

Pun beberapa kali tatap muka dengan guru wali murid anak-anak. Saya menyimpulkan bahwa para guru itu berdedikasi dalam bekerja. Tidak hanya urusan akademis, tetapi juga memperhatikan hal-hal ringan anak-anak terkait dengan kehidupan sosial anak-anak di sekolah.

PR di sekolah ini cukup banyak (Kata siapa sekolah di LN gak banyak PR? Pitnes! hehe).  Dan ini sarana juga bagi anak-anak sebagai stimulan untuk segera beradaptasi dengan lingkungan barunya ini. Fasilitas disediakan, dukungan moril diberikan. Tapi, yang paling penting, anak-anak happy dengan hal baru yang dialaminya. Saya sering menanyakan kepada mereka apakah mereka happy menghadapi hari-hari baru mereka di sini. Mungkin klise, tapi saya merasa penting untuk menanyakan ini kepada anak-anak, membayangkan ini bukan hal yang mudah. Berpindah ke suatu tempat baru dengan lingkungan sosial, kultural sama sekali baru. Plus dengan bahasa yang berbeda. Sama sekali berbeda. Untuk diketahuin, anak-anak SAMA SEKALI tidak berbahasa Inggris pada saat datang. Di sekolah di Indonesia hanya sekali seminggu, itupun lebih pada hal-hal yang grammar yang mendasar sifatnya. Menjelang berangkat tiga anak itu sempat saya kursuskan bahasa Inggris selama dua pekan, yaa…sekadar me-refresh dasar-dasar berkomunikasi, seperti perkenalan, menyapa, dan seterusnya. Sangat dasar.

Tapi ibarat teori berenang, praktek sesunguhnya adlah di kolam. Dan inilah “kolam” itu kini.

Pun saya sendiri adalah pertama kalinya tinggal di luar negeri, jauh dari sanak kadang. Pernah beberapa kali ke luar negeri hanya beberapa saat saja, bukan untuk durasi yang panjang. Bahasa Inggris tertatih, bahkan untuk sekedar mendapat score 567 untuk Toefl beberapa waktu lalu. Jatuh bangun untuk dapat nilai segitu. Sungguh. Bagi saya sangat sulit. Hmm. So, dalam soal bahasa, anggaplah kami benar benar memulai dari awal. Baik saya, apalagi mereka, anak-anak itu. Yang diperlukan adalah pembiasaan dan keberanian. Bismillah, selebihnya Allah akan tolong. Ia sebaik-baik penolong.

Sekolah anak-anak saya anggap memenuhi kebutuhan anak-anak saya dalam beradaptasi. Bahkan di atas ekspektasi kami penerimaan mereka terhadap anak-anak. Satu hal yang saya khawatirkan, semacam terjadi bullying dan seterusnya, sama sekali tidak terjadi. Alhamdulillah. Anak-anak aman dan bahagia. Thariq dan Izzi segera mendapat teman-teman dekat. Kedekatan mereka layaknya dengan teman-teman di Indonesia. Best Friend. Untuk Najma memang agak pemalu (seperti emak lah..hihi) ya, prosesnya berbeda-beda.

Tak terasa, waktu bergulir demikian cepat. Satu tahun sudah kini. Sekarang Izzi sudah masuk ke secondary school (Di sini secondary school ditempuh dalam 5 tahun, atau setingkat SMP dan SMA, dan jika akan masuk university harus mengikuti ada 1 tahun persiapan university…di kelas 6)

Semua ini tentu akan menjadi cerita hidup bagi kami, khususnya anak-anak…hingga nanti.

Galway, Akhir September 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s