Renang Thariq

Menjadi emak-emak dengan anak banyak, pun lagi ribed juga dengan urusan sekolah, memang tak mudah. Setidaknya itu yang saya rasakan. Urusan pritilan bocah yang mau sekolah, yang PR, yang tugas project, yang perisapan presentasi de el el, kadang bikin kepala mau pecah.* Lebay.

Seperti pagi ini. Thariq akan ekskul berenang. Semalaman abinya sudah wanti-wanti untuk ini itu. Maklum ini hari pertama dia berenang. Ikutan ekskul sekolahnya 11 kali pertemuan dengan biaya 60Euro. Lumayan murah-lah untuk ukuran sini. Ditambah, ada peri baik hati yang rela hati dititipin thariq untuk antar dan jemput ke kolam renang, Leisure Land, yang nggak bisa ngesot langsung sampai. Bersama Sean, anak Mak Mira, jadilah renang kali ini seri renang pertama selama di Irlandia.

Sebelum pagi ini, semalam, abinya anak-anak sudah bawel agar semuanya disiapkan di dalam tas, celana renang, sandal, baju ganti, handuk, dst. Namun, dasar bocah, iya-iya. Nanti-nanti. Ntar-ntar. Adalah jawaban umum yang lancar keluar. Ketika saya cek and ricek. (Nggak bisa lah emak percaya begitu saja dengan si tole 9 tahun ini). Benar saja, handuk sudah ada, diletakkan di kursi sebelah tempat tidur. Sendal masih tegeletak di sisi tas. Malah, celana renang masih tergeletak manis di dalam tumpukan..lemari! Hadeuuh.

Sontak, saya mengeluarkan simpanan plastik kresek di tas (di sini saya biasakan menyimpan satu kresek, kalau sewaktu-waktu cuaca baik, dan tiba-tiba terinspirasi ke Al*i atau ke Asian store di city). Tangkas emak memasukkan barang-barang perlengkapan renang itu ke dalam tas plastik hijau tosca bertuliskan cen*ra, salah satu minimarket di Irlandia sini. Dan, menghidari hak ikhwal lupa…tangan yang tangkas ini langsung memblesekkan ‘paket; renang ini ke dalam tas-nya yang memang sudah pepat dengan buku. Lunch box akan menyusul besok pagi, pikir saya.

Paginya, setelah sarapan dan memasukkan lunch box ke dalam tas. Thariq pamit pergi. Saya masih di atas ketika Lulu, bilang: “Bunda, ini plastik berenangnya thariq kok masih di sini…ketinggalan bunda.” Emak melongo melihat plastik tosca teronggok di bawah tangga, dekat pintu keluar. Waduh. Padahal ia akan berenang jam 2.15, atau 15 menit lebih awal dari jam keluar sekolah hari biasanya. Janjiannya, ia akan ke kelas Sean, untuk bersama-sama maminya diantar ke kolam renang. Les akan dimulai jam 2.30. Waktu 15 menit cukuplah mengantar anak-anak dengan mobil. Di sini kan tak berlaku macet. Kalau adapun, jarang-jarang. Artinya, tak ada waktu untuk pulang dulu ambil barang ini kan. Hiks.

 

Emak Flash

Jadilah emak yang belum mandi, dengan baju seadanya, menarik jilbab, jaket, dan sepatu. Bahkan tak sepmat berkaos kaki, padahal dingin..huhu. Emak melesat bak batman. Emak ngloyor mengejar Thariq. Barangkali masih bisa dikejar. Sambil berlari…keluar gang, sudah tak nampak thariq. Hujan gerimis bertambah lebih cepat. Emak berlari di antara hujan. Sambil sedikit dongkol. Tentu, siap nyerocos karena kesal. Kenapa barang yang sudah disimpan rapi di dalam tas malah dikeluarkan. Kan begini akhirnya. Ketinggalan. Sudah wanti-wanti dari semalam. Haduh…bocah.

Dalam berapa puluh meter kemudian, emak melihat sosok anak kecil di kejauhan. Sudah di seberang jalan. Berjalan sendirian. Emak menyeberang. Emak berteriak memanggil nama itu. Beberapa kali panggilan si bocah tak menyahut. Bunyi deru kendaraan dan hujan perlahan. Barangkali membuatnya tak mendengar. Di arah yang berlawanan tahriq, atau menghadap ke saya, seorang gadis bule berjalan. Sontak saya melambai-lambai mengisyaratkan agar tolong dipanggilkan thariq. Si mbak bule terlihat mencolek thariq. Si Thariq yang dicolek spontan menoleh ke arah saya. Ia tersenyum dan berlari demi melihat saya jauh di belakangnya. Tas besarnya glodakan bersama larinya menghampiri saya.

Adegan berikutnya adalah adegan serah terima. Tanpa sepatah kata yang sanggup keluar dari mulut saya, thariq mendahului, “O iya lupa.” Jawabnya pendek, sambal tersenyum. Duhai, dalam keadaan begini, kemana cerocosan itu tersimpan. Manalah bisa saya ngomelin seorang lelaki kecil yang gontai berjalan sendirian. Di dalam hujan. Dalam mana Ia hendak menggapai impiannya. Ia hendak mengais ilmu yang kelak menjadi bekal bagi hidupnya.

Duhai, perempuan mana yang sangup mengeluarkan ocehan bawel, demi melihat semua itu tersaji di depan mata. Selesai memasukkan plastic tosca, saya melambai berucap terima kasih kepada si mbak bule yang melintas tepat di sebelah kami. Thariq mencium tangan saya, saya cium, dan pelan saya bisikkan di telinganya. I love you, Nak.

Dan Thariq pun melanjutkan perjalanannya. Jarak 1,2km dari rumah menuju sekolah, atau total 2,4km ia tempuh setiap harinya. Demi ilmu yang kan memandu.

Di kejauhan saya masih memandangi langkahnya. Saya memandang punggung kecil itu menjauh. Titik air mendenting kan elegi pagi. Pelan saya berucap, I love you, Nak.

 

Galway, 21 September 2016

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s