Dan, Inilah Piala Untukmu!

Dulu, dulu sekali, hari pembagian rapot adalah siksaan tersendiri buatku selaku orang tua. Maklum, deret angka yang bertebaran di rapot anak-anakku tidak pernah ada yang membuat mereka menyandang gelar juara kelas. Selalu berdengung orang tua di sebelah-sebelahku duduk berucap: Alhamdulillah, sambil memeluk anak mereka. Ah, indah sekali kelihatannya. Aksi yang selalu mengusik rasa ingin tahuku untuk bertanya, “Bagaimana hasilnya ananda X, bun?” tanyaku spontan. Jumlah nilai rapot yang spektakuler, dengan deret angka nyaris sempurna tak pernah mampu menyembunyikan decak kagumku, dan juga…eng ing eng…seutas tanya yang tersimpan, mengapa bukan anakku yang mendapatkan itu.

Dan kejadian demi kejadian dalam sesi-sesi pembagian rapot, selanjutnya-seterusnya, menjadi elegi buatku selalu orang tua. Seperti drama saja layaknya. Padahal, kalau mau jujur, meski (ini yang sering kutanyakan kepada guru wali kelas tentang ranking berapa) anak-anakku berada pada peringkat 20 besar (haha) atau bahkan 25 besar, namun nilai rata-ratanya tidak pernah kurang dari delapan. Gila, decakku dalam hati. Dulu saat aku SD, rata-rata 80 atau 82 saja sudah juara 1 di kelas. Oalah. (Makanya di kemudian hari, pada saat Izzi UN SD tahun 2015 dapat nilai duapuluh tujuh koma sekian saja suskes membuatku menangis haru karena…nggak nyangka *klise :D)

Elegi drama pembagian rapot kemudian dalam-dalam kukubur. Dalam beberapa tahun kemudian, usaha kerasku membuahkan hasil. Lebih bijak (semoga!) dalam bersikap pada sesi-sesi pembagian rapot. Tak terlalu perlu kajian parenting yang panjang ternyata. Cukup berusaha mencintai anak-anak seperti adanya mereka, berusaha mencipta bahagia pada hidup mereka, berupaya untuk tidak membebani diluar kesanggupannya, dan lebih dari itu, dalam-dalam aku tancapkan dalam diriku bahwa anugerah dari Allah berupa anak (yang tidak semua pasutri dianugerahi amanah ini) adalah bukan terlahir untuk semata memuaskan hasrat orang tua. Hasrat? Iya. Hasrat. Mari kita jujur. Sesungguhnya jika anak mencapai ini-itu, sesuai dengan ‘kehendak’ kita, siapa yang pertama bangga? Siapa pertama yang akan mengabarkan pada dunia bahwa anak tersebut mendapat ini-itu? Tersebarlah berita tersebut sembari tersenyum lebar kita mengabarkannya. Pendeknya, lewat mengabarkannya seolah kita ingin berkata: Aku orang tua yang ‘berhasil’. Aku telah berhasil mendidik anakku, dengan mengarahkannya layak beroleh ini-itu. Bukan demikian?

Kalau kita mau jujur, diri kita dibanding-bandingkan dengan orang lain, rasanya tak nyaman bukan? Jika demikian, mengapa kita menerapkan standard yang berbeda pada anak?

Suatu hari, bertandang seorang sahabat, lulusan universitas ternama. Anaknya, seperti anakku, beroleh prestasi “rata-rata air” di sekolahnya, bahkan cenderung di bawah rata-rata. Ia, seorang yang cerdas dan kukagumi karena kebaikan hatinya, menukas bahwa sebagai orang tua kita kudu taubatan nashuha dalam mencecar standard tertentu yang kita set untuk dicapai anak. Lho? Apa salahnya kataku? Toh kita, orang tua, kan menginginkan yang terbaik bagi anak-anak kita? Karena mereka belum memahami target-target itu, maka bukankah kita yang sudah lebih tahu ini harus membantu mereka menentukan standard-standar itu? Bukankah ini untuk kebaikan mereka juga? Pertanyaan-pertanyaan saya hanya dibalas oleh seutas senyum. Ah.

“Bagi saya, jika R (nama anaknya) kelak menjadi orang yang baik, yang memperlakukan isterinya dengan sangat baik, menghormatinya, menyayanginya, ini sudah sesuatu pencapaian yang luar biasa.”

Ia, yang begitu menyejukkanku, tak menghendaki anaknya stress karena hasrat diri yang menggebu agar anak-anaknya begini atau begitu. Agar memenuhi ambisi orang tuanya untuk jago matematika, jadi juara kelas, jadi dokter, berprestasi, juara renang, juara karate, dst dsb. “Sebagai orangtua, kita harus taubatan nashuha” tukasnya.

Sepintas, cara berfikir yang ‘anti mainstream’ seperti beliau ini tak masuk akal. Kalau anak masih bisa ‘digenjot’ untuk melejitkan potensi-potensinya, mengapa tidak? Tapi jika diresapi, ‘potensi-potensi’ yang kita maksud di sini kok lebih banyak yang sifatnya materiil ya. Kita lupa, bahwa karakter anak yang suka memberi, mau berbagi, suka mengalah, mendahulukan kepentingan orang lain, penyayang, dst yang sudah built in pada anak-anak kita, kerap abai kita apresiasi. Anggap, yang seperti itu adalah biasa-biasa saja, bukan capaian yang harus dibanggakan. Hingga kita lebih berfokus pada capaian-capaian lain yang kadang terasa diawang-awang bagi anak.

 

 Bahagiamu Bahagiaku

Satu hal lagi, soal bahagia. Sering kita memandang bahwa kebahagiaan adalah saat anak, karena usaha keras kita, dapat mempersembahkan mahkota juara ini-itu kepada kita. Kok, kepada kita? Iya, karena buat mereka sendiri bias jadi makna juara itu belum betul mereka pahami, kecuali jika mereka menghadirkannya di depan wajah kita, sontak senyum ini akan mengembang lebar, peluk mesra akan segera menghambur, ucapan: “kamu hebat” akan segera meluncur sering-sering di telinga. Sementara, apakah anak-anak cukup bahagia dengan itu semua? Bisa iya, bisa tidak jawabnya.

Padahal banyak sekali riset-riset tentang kebahagian pada masa kanak-kanak yang akan berimbas pada pembentukan kematangan mereka kelak di masa mendatang. Bagaimana mereka beroleh bahagia di masa kanak-kanak, enjoy menjalani hidup, tidak terbebani sesuatu yang diluar kesanggupannya, tidak terampas masa kecilnya yang harusnya banyak bermain-main dengan ambisi orang tua yang kadang berlebihan. Sejauh mana kita telah memberikan kebahagiaan pada masa kecil mereka? Apakah kita pernah mengukur itu, bukan dengan gadged yang kita berikan, bukan dengan game online, bukan pula dengan fasilitas yang membuat mereka “bahagia” karena asyik masyuk dalam jeratan materi duniawi? Marilah dekap mereka sesering kita bisa, kucurkan kasih sayang melalui pengertian, rasa rindu, dan doa tentu saja.

Setiap anak adalah istimewa. Mereka tumbuh dengan keistimewaan yang unik masing-masingnya. Sebutlahlah soal karakter, soal hobi, soal intensi, soal interest, dan sebagainya. Dan kecerdasan, sebagaimana yang kini telah disepakati oleh para ahli, tidak hanya dihitung sebagai kecerdasan matematis. Ada kecerdasarn spasial, kecerdasan kinestetis, kecerdasan bahasa, kecerdasan seni, dst. Yang harusnya dilakukan oleh orang tua adalah memahami kecerdasan-kecerdasan yang dimiliki anak, dan berupaya menyalurkannya ke dalam kegiatan positif yang menunjang agar dapat tumbuh subur, dan kelak akan mendatangkan manfaat bagi orang banyak.

Maka, tak lagi perlu membandingnya hasil rapot matematika anak dengan anak tetangga yang juara kelas. Bisa jadi kemampuan kecerdasan matematisnya memang berbeda. Sebatas anak-anak telah berusaha keras mencapai sesuatu, maka itulah hasil terbaik yang ahrus kita terima dengan lapang dada. Kita selayaknya beroirentasi pada proses, dan bukan hasil semata. Bagi orangtua yang memang anaknya diparingi Gusti Allah kemampuan luar biasa di bidang kecerdasan matematis dan eksakta, patut bersyukur. Karena bersyukur memang harus, apapun yang Allah bagi buat kita. Karena, rizki yang Allah berikan tak harus selalu sama dan sebangun, karena itulah indahnya keberagaman, hingga kita bisa saling tolong menolong dengan kemampuan dan potensi yang ada pada diri kita masing-masing. Tidak perlu (terlalu) berbangga, tak perlu juga merasa minder, jika kebetulan anak-anak kita tidak punya apa yang kita harap-harapkan pada suatu titik. Toh, bias jadi di titik lain, ia punya sesuatu yang orang lain tak memilikinya.

Selamat mengantarkan potensi anak-anak kita dalam kerangka optimalitas mencapai kebermanfaatan bagi manusia, sebanyak-banyaknya. Seperti hadits Rasulullah SAW: “The best of you is the most advantageous one

 

Galway, 12 Juni 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s