Paket Hidup

Saat memandang kehidupan orang lain, kerap kita bergumam dalam hati, “ Ih, enak banget ya dia begini begitu…” atau dalam kesempatan lain, “Duh, bahagianya dia mendapatkan pasangan seperti itu…” atau yang seperti ini, “ Coba aku yang dapat itu ya…” dan seterusnya, dan sebagainya. Kesempurnaan hidup seolah ditakar dengan (harus) menjadi diri orang lain yang dalam pikirian kita beroleh “kesempurnaan” tersebut.

 Semakin panjang lintasan hidup, makin panjang pula lintasan ujian. Tidak cuma saya, tetapi juga kamu, dia, dan mereka. Life is not as simple as seen on facebook though. Perjalanan hidup selalu berisi senang-susah, sedih, bahagia. Silih berganti. Siapapun dia. Allah toh tak pernah pandang bulu. Bahwa setiap manusia PASTI menjelajah ujiannya. Justru ini bentuk manifest dari cintaNya. Di titik mana kita diuji, masing-masing dapat berkaca pada kehidupan yang kita jalani. Sangat unik tentunya, karena tiap kita membaca aksara takdir yang berbeda. Bahkan sepasang kembar identikpun lahir dengan qadar “uji-materi” yang berbeda pula.

 Melalui panca indera pula kita kerap membuat kesimpulan dini. Terlalu cepat, bahkan. Sesederhana mata menangkap, otak mencerna segera dan fasih menerjemah sebagai “enak banged ya dia…” atau “ah hidupnya nggak pernah susah..” Padahal pandangan kasat mata kita (yang hanya mampu melihat sisi maujud secara fisik) amat terbatas pada dimensi ruang dan waktu. Di sini, saat ini. Atau, di situ, saat itu.

 Dan di titik itu, otak kita beranjak pada sesuatu seperti yang terpantul dalam gumam dalam hati “enaknya…indahnya hidup dia.” Dan kadang diakhiri dengan gumaman, “Andai saya jadi dia” atau “Saya mau dong kayak dia” atau “Duh beruntungnya dia..” dan yang lebih parah kadang sembari mebandingkan dengan diri kita, yang tidak “seberuntung dia” setelah mengeja perlahan keadaaan kita di titik ini, dalam soal ini.

 Kalau kata iklan: Life is never flat, ada benarnya juga. Kalau kita melihat satu segmen, atau katakan (lebih sempit lagi) satu frame dalam kehidupan orang, tak kan pernah sungguh-sungguh dapat menceritakan keseluruhan apa yang telah dia lewati, atau apalagi apa yang akan dia temui di masa depan.

 Melalui secarik foto yang menggambarkan cerita tertentu, Si A, saat kita sawang melalui selembar gambar foto tak bertanggal, adalah pria amat beruntung punya isteri yang hebat, salihah, penderma, penyayang, nurut suami, berhati emas, luhur, cerdas, kece badai, dan sederet lagi puja yang membuat hati ini teriris sembilu dalam kenyataan bahwa istri saya “nyanyi” dalam tone paling soprano, sepagian, tersebab remeh temeh bab saya lupa meletakkan kaos kaki di tempat sepatu. Uh.

 Atau sebuah kenyataan melalui sebuah fragmen hidup orang, saat menyawang pasangan kawan kita sukses dalam bisnisnya. Atau lulus gemilang PhD-nya dengan topik penelitian yang mengguncang dunia. Uh, enaknya. Ah, beruntungnya. Dan terus, tak ada habisnya rasa ‘kurang’ kita beroleh pasangan hidup yang tidak begini kurang begitu. Minus di sini, devisit di situ.

Atau, seorang yang suaminya ‘ringan tangan’ bersedu-sedan di pojok yang dingin sambil meratapi sebuah fragmen indah, gambar di facebook yang mendeskripsikan suami (orang lain) yang baik dan penyayang, dalam sebuah gambar keluarga utuh, postingan seorang kawan. Ah. Padahal di kali yang lain, boleh jadi seseorang entah siapa, juga berfikir iri yang sama saat si ibu yang suaminya ringan tangan ini (tanpa seseorangpun tahu, tentunya) menampilkan foto-foto indah makan bersama, di sebuah resto berkelas, di luar negeri pula, tertanda anniversary dua dasawarsa. Semacam penanda bahagia bahtera rumah tangga.

 Begitulah. Iri tak akan pernah sampai pada titik henti. Iri memang tidak selalu buruk. Dan tidak semua iri ditampilan dalam bentuk kebencian. Sama sekali tidak (selalu) demikian. Kadang ia hanya muncul dalam bentuk yang paling halus, yakni menggerutui hidup kita yang (dalam hal mana) kita pandang tidak ‘sebertuntung’ orang lain yang kita bandingkan secara tergopoh-gopoh melalui sepotong segmen hidupnya.

  Paket Hemat Atau Paket Spesial?

Melalui fragmen yang telah saya jalani, dan saya bercermin juga dari (lagi) pandangan mata saya terhadap kehidupan orang lain, saya sampai pada satu kesimpulan sederhana bahwa sesungguhnya hidup ini ibarat paket. Setiap orang mendapat satu paket. Isinya berlainan satu sama lain. Satu paket yang ‘taken for granted’ ini terkandung semua hal dari yang paling pahit sampai yang paling manis.

 Analoginya, dalam sebuah perjalanan survival di tengah laut setiap orang dengan satu perahu. Rule-nya yang pertama adalah semua paket yang diberikan harus dimakan HABIS. karena itulah cara kita hidup, sampai perahu berlabuh ke pulau tujuan. Kedua, sudah ditentukan urut-urutan dan waktu memakan setiap buah dalam keranjang yang berisi 35 buah tersebut. Masing-masing buah sudah bertanda nomor urut dan waktu memakan. Ketiga, setiap orang tidak dapat melihat paket yang dimiliki orang lain, kecuali apa yang terlihat pada saat orang tersebut memakannya.

 A adalah sesorang yang mendapat satu paket buah yang terdiri dari: 5 buah apel manis, 1 buah apel busuk, 3 buah jeruk masam, 5 buah jeruk manis, 1 buah delima putih yang plain rasanya, 2 buah kiwi satu diantaranya mentah, 3 mangga gedong gincu super manis, 4 buah salak yang 3 diantaranya sepat luar biasa, serta 1 lagi buah beetroot yang aneh terasa di lidah.

 Jumlah dan jenis buah yang berlainan diberikan dalam paket lain kepada si B. Paket berisi: 1 buah nanas (padahal tidak disediakan pisau), 2 buah apel segar yang manis, 7 buah jeruk yang semuanya manis, 4 buah delima merah yang segar lagi manis, 3 buah salak super duper sepat, dan 3 buah mangga berserat dan masam.

 Si C mendapat jatahnya berupa paket yang berisi: lima buah salak pondoh yang manis, 2 untai anggur manis, 5 buah gowok super masam dan sepat, 1 buah durian mentah, 7 buah jeruk yang dua diantaranya busuk.

Dalam perjalanan perahu yang mengantar ke pulau tujuan, pada saat A makan sebuah kiwi mentah, mungkin B tidak melihat. Apa yang dilihat B adalah pada saat A memakan Mangga Gedong Gincu yang super manis. Begitu pula pada saat C makan Gowok yang super sepat, B hanya bisa prihatin, karena di saat yang bersamaan ia tengah makan buah delima yang segar lagi manis rasanya.

 Begitu juga A, ia kebetulan selalu melihat C dalam makan buah yang manis, karena kebetulan pertemuan dengan perahu C pada saat di mana C makan buah jeruk manis, salak pondoh, dan seuntai anggur menggoda. B sama sekali tidak melihat struggle-nya C saat harus ‘membongkar’ dan mengunyah durian mentah. Heuheu.

 Begitulah. Meski hidup tidak sesederhana makan memakan buah, namun bolehlah analogi simplifistis ini membuat saya, setidaknya, berlapang hati dengan alur alias life pathway yang saya lewati sampai dengan detik ini. Karena saya yakin setiap orang mengalami stages yang berbeda, ujian yang berbeda, dengan derajat dan intensitas yang berbeda pula. Justru inilah bentuk kesempurnaan itu. Melewati tiap ujian dengan seksama semisal seorang murid bekerja untuk soal ebtanas tepat di muka.

 Kalau dikata dunia sementara, mengapa kita bersikukuh untuk selamanya tinggal. Dan, apalagi, menjadikan faktor-faktor di sini sebagai semata parameter bahagia? Sementara kita tahu bahwa paket “buah-buahan” yang diberikan di perahu kita adalah satu pemberiaan, tali kasih, untuk sekadar survive mencapai pulau tujuan yang telah dekat di hadapan.

 Menakar nikmatNya, Determinasi syukur sebuah niscaya

 Lalu, di mana letak bahagia? Apakah pada saat makan seuntai anggur manis nan menggoda? Apakah pada saat mengunyah apel renyah dengan cita rasa Amerika? Ataukah salak pondoh masir manis manja itu yang menggoyangkan lidah seraya mengirimkan sinyal ke otak bahwa ini enak luar biasa?

 Kita tidak pernah terinformasi bahwa sebuah keadaan betapa perjuangan si C membongkar durian mentah, dan harus tertatih mengunyahnya, sementara ia sama sekali tidak pernah memasukkan buah berduri itu dalam daftar buah kegemarannya, adalah challenge pertama yang ia terima dengan gembira hati, setelah sinyal lapar liar menghantui pikirannya dalam 22 jam tanpa jadwal makan buah, sebagaimana yang tertera pada schedule termaktub. Struggle membuka durian dengan sepokok ranting yang ia gigit hingga runcing, cukuplah menjadi saksi bagi kulit keras kepala sang durian yang akhirnya menganga di depan mata. Pun dengan telapak kanan yang tergores, dan darah yang menetes pada daging durian yang mentah. Dan pada daging durian yang penuh meski getas, C bersyukur telah dapat menaklukannya. Dan, sontak mengirimkan bongkahan mengkal sebesar genggaman tangan itu ke perut yang disambut dengan sebuah alarm tanda ‘aman bos, perut telah terisi.’

 Dan dalam eksotika gedong gincu yang dimakan A, apakah ada bahagia di sana? Pikiran kita menyergah: pasti. Jawabnya: belum tentu! Gedong gincu yang ketiga dimakan setelah jadwal yang rapat dengan makan sebuah beetroot, dua buah apel manis, dan satu buah jeruk manis dalam frekuensi yang (sebagaimana tertera) berdekatan, membuat A berfikir: “Ah, kenapa tidak nanti saja ya, jadwal si gedong gincu. Masih kenyang dengan buah sebelumnya, masih belum berjeda dengan manisnya.” Sementara B, dan C sedang glek-glek –nya melihat A menggerogoti gedong gincu, karena di saat yang bersamaan mereka sedang manyun menanti jadwal makan buah yang masih lama.

 Begitulah, syukur selalu menjadi determinasi hidup. Ia membedakan bahagia. Untuk sebungkus nasi dengan oseng tempe, sambel, lalap, ikan asin, dan tumis kangkung, yang berharga 7 ribu rupiah, akan bernilai 98 di lidah seorang kuli bangunan yang bekerja pagi hingga siang, ketika mendapatkan bungkusan tersebut, membuka isinya, dan merasai tiap suapnya dengan lahap. Sementara, seporsi sirip hiu seharga satu juta, di resto ternama utara Jakarta, yang dimakan bersama relasi bisnis, sambil membahas proyek dan tender bernilai wah wah wah, belum tentu bernilai menyamai sebungkus nasi seharga 6ribu perak tadi. Makan sambil lalu. Mungkin “rasa bahagia” makan seporsi makanan itu hanya 56. Bisa jadi.

 Atau apalagi pada seporsi gudeg lezat lengkap opor ayam, sambal goreng krecek dan arehnya yang memanggil-manggil, dihidang pada saat raga terdiagnosis GERD, lidah kan melambai ‘no’ tanda tak selera.

 Jadi, buka apanya yang membuat bahagia, tapi juga bagaimana menikmatinya. Syukur dengan segala manifestasinya bermuara pada rasa bahagia, saya percaya. Namun sayangnya, kita kerap terkooptasi dengan standard bahagia yang tercipta: dengan nominal tertentu, dengan meteri tertentu dengan status tertentu. Tidak melulu yang tangible dan visible, tapi tetap “terukur” pada sesuatu yang ujung-ujungnya “materiil.” Dan lagi-lagi kita terkungkung pada “standard bahagia” yang tercipta di kepala. Padahal, kalau kita ubah sedikit saja cara pandang kita, niscaya kita menemukan bahagia di setiap derap langkah kita. ujian kita, sebesar apapun ia dikonstruksi oleh mata.

 Semakin kita menakar ‘nikmat’ orang lain yang tidak hadir pada kehidupan kita, makin kita menggerutui hidup. Dan makin menjauh kita dari bahagia. Maka, mengulik setiap inch kesyukuran pada ‘paket spesial’ diri kita, yang terberi semata karena maha kasih dan maha sayangNya, adalah jua menapaki alur bahagia. Karena bahagia tidak di mana-mana, ia ada begitu dekatnya. Di kepala.

 

Refleksi diri, nasihat untuk pongahnya hati ini.

Galway City, 20 September 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s