Bunda, seperti itulah kalian memanggilku

Hari-hari yang kita tapaki, berbilang tahun sudah.

Centi demi centi kalian bertumbuh. Ke atas, dan terus ke atas.

Aku bahkan tak dapat menandai kapan kalian bertumbuh. Bahwa tinggimu, Izzi, sekarang jauh melampauiku.

Aku hanya terus perlu menancapkan syukurku dalam-dalam

Akan hadirnya kalian dalam hidupku. Tak semua perempuan diamanahkan anak-anak. Meski bukan berarti itu kelebihan kami, dibanding mereka yang tidak atau belum beroleh anak.

Tapi setidaknya dari kalian, aku belajar. Aku belajar apa itu sabar dalam senyatanya perjuangan. Dari goresan kapur di papan tulis, dan tertatih menuliskannya di dalam hari-hariku. Hari-hari kita.

Dari kalian, akupun menginsyafi kelemahan diri. bahwa hari-hari melesat tanpa dapat kutahan, karena kutahu aku belum melakukan banyak untuk kalian.

Aku masih tertatih perlahan melongo melihat kalian yang seolah tiba-tiba besar. Kalian yang tiba-tiba menyanggah tangkas apa kataku. Kalian yang mengingatkanku kalau aku terlalu bawel menyanyikan seriosa panjang untuk kalian.

Terima kasih juga telah berbagi inspirasi. Bahwa kalian adalah jiwa-jiwa merdeka yang memberi semangat senantiasa agar aku kuat. Agar aku tegar menantang takdir. Atas apapun yang kulalui, baik sejarah lalu, hari ini, maupun masa nanti.

Dan membersamai kalian dalam hari-hari penuh makna, dalam omelan panjang-pendek perempuan yang kalian panggil “bunda” ini tentu kan kalian ingat senantiasa. Hingga dewasa menjelang.

Maafkan aku yang kadang lupa. Bahwa hidup kalian tak akan terlalu lama bersamaku. Bahwa kalian akan segera menjemput takdir kalian masing-masing.Masa depan kalian masing-masing.

Sedang aku, di hari mendatang, mungkin akan hanya mengenang cucian kotor yang ditaroh tidak pada tempatnya, kamar penuh kreasi yang tertumpah cat berwarna biru, pada apel busuk yang kalian lupa simpan di laci meja di kamar. Pun pada teriakan kalian berkelahi saling iri. Tangisan. Aduan, Juga canda-tawa kalian yang membahana di dada.

Mungkin hanya sepi yang tersisa, saat kulihat sudut-sudut ruangan tak lagi memantulkan suara. Saat lantai bersih jali rapih tanpa tumpahan bubuk coklat, tanpa tumpahan gula yang kalian acak-acak seperti saat hendak membuat teh dan susu jahe. Saat tak ada lagi suara mixer memenuhi dapur tanda kalian asyik masyuk dengan baking yang meninggalkan jejak cucian piring berserak di seantero dapur kita.

Tapi aku tak kan bisa menghalangi takdir yang bergulir. Aksioma waktu yang berlari menjauh. Tapi semoga hati kita senantiasa (men)dekat. Semoga hanya Allah-lah yang menjadi ikatan antara aku dan kalian. Dan selalu, kumintakan perlindungan terbaik padaNya selaku sebaik-baik pelindung, untuk menjaga kalian, selalu, selamanya.

 

Galway City,

20 September 2016

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s