Teruntuk Puteraku

TERUNTUK PUTRAKU, IZZI TERKASIH

Hari ini,  15 November 2011. Meski dari negeri yang jauh, aku takkan pernah lupa hari bersejarah ini, Nak, Hari lahirmu.

Delapan tahun silam, sulit membayangkan senyum dan tawa menghias wajahku kala “saat” itu tiba. Saat penat membalut wajah sembari tengadah  siap menadah laki-laki mungil yang kelak kuberi nama dirimu. Saat tubuh bersimbah peluh mencipta rasa sakit-nyelekit-cenat cenut, cekat-cekot,  becampur nyeri, bercampur perih-pedih. Sebuah penantian bermuara bahagia, menyaksikan pekik tangismu tandai hadirmu di pelukku.

Duhai, membayangkan dirimu hari ini laksana masuk ke lorong waktu.  Sewindu seolah bukanlah waktu yang panjang. Teringat  bayi kecil dengan dahi yang lapang. O, senyumku mengembang mengingat saat itu. Lagi dan lagi. Tumbuhmu dari waktu ke waktu menjadi warna bagi hari-hariku. Kekuatan Sang Maha Digdaya menjadi asa tiada tara bagi kita, Nak. Bagi hari-hari yang kita lalui, merangkai detik-demi detik peristiwa.

Tepat delapan tahun kamu menapaki manisnya dunia. Ingat, kelak, bukan hanya manis yang kan kau kecap, Nak..di depan sana  ada kecut, asin, anta, sampai pahit ‘rasa’ dunia yang mungkin bakal singgah dalam episode hidupmu

Dunia bukan sekedar panggung, oleh karenanya jangan canggung menaklukkannya

Dunia bukan semata permata, oleh karenanya jangan pernah terperdaya olehnya

Satu windu telah kamu lalui bersamaku. Mungkin ada windu-windu yang ke-2 ke-3 dan seterusnya yang bakal kamu lalui. Entahlah. Yang pasti, persiapkan dirimu untuk dapat melalui lintasan masa, lintasan peristiwa dengan bekal yang sungguh-sungguh sempurna

Aku tak pernah memaksakanmu untuk menjadi juara kelas, aku hanya ingin kamu menjadi hambaNya yang senantiasa ikhlas

Aku tak akan membanggakanmu karena harta yang berlimpah, aku hanya ingin kamu menjadi pribadi yang pantang menyerah dan jauh dari pongah

Perkasalah nak, perkasalah. Jadilah lelaki sejati penuh hamasah

Jadikan putih senar hatimu sebagai  hijab antara kau dengan an-naar

Aku bukanlah ibu sempurna. Aku hanyalah ibu sederhana. Sesederhana impianku untuk menjadikan kamu—putraku— gemar berbagi kepada yang papa. Tak perlu se-samudera, tapi cukuplah malu merunduk pada sang penderma Sayyidina Abu Bakar Assiddiq (Semoga allah merhamatinya) yang tak sungkan menderma  seluruh banda

Jadikan dunia takluk dalam genggamanmu. Jangan biarkan ia merajai hatimu

Lelaki kecilku yang senantiasa mencipta ceria, kamu adalah sahabat dalam sakit dan bangkitku.

Ingatlah terus patatah sewindu miladmu dari ibumu yang tak berilmu

Kumohonkan doa dari Pemilik Awan Gemawan,  bagi kebaikan dirimu, seterusnya, selamanya, sepanjang hayat dan selepasnya.

Baktimu padaku adalah darah yang mengalir di nadiku

Mohon doakan aku, anakku, dalam hidup dan matiku

Kiranya dari ArsyNYA, IA senantiasa menuntun langkahmu, langkahku, langkah kita.

Selamat Ulang Tahun, Nak…

Dari Makkah Al-Mukarramah,

Bunda


 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s